Dingin, Kabut, dan Keindahan: Petualangan Dieng – Prau

Dingin menusuk tulang saat kami tiba di Dieng Plateau. Kabut tipis menyelimuti jalanan, seolah menyambut perjalanan yang akan kami kenang seumur hidup. Dari Wonosobo, perjalanan ini bukan sekadar wisata tapi petualangan menuju puncak impian: Mount Prau.


1. Perjalanan Menuju Dieng

Perjalanan kami menuju Dieng Plateau dimulai pada pukul 17.50 WIB. Dengan semangat petualangan yang sudah terasa sejak sore, kami berangkat dari rumah menuju Terminal Pulo Gebang dan tiba sekitar pukul 18.30 WIB.

Sesampainya di terminal, kami langsung mengambil tiket bus yang sebelumnya sudah dipesan melalui aplikasi online. Setelah semua siap, kami hanya perlu menunggu kedatangan bus Dieng Indah yang dijadwalkan tiba pukul 20.30 WIB.

Tepat waktu, bus pun datang. Kami segera memasukkan barang ke bagasi, mencari tempat duduk, dan perjalanan panjang menuju Wonosobo pun dimulai.

Perjalanan Malam yang Panjang

Suasana malam di dalam bus membuat kami cukup cepat mengantuk. Beberapa kali kami tertidur, meski sesekali terbangun karena guncangan jalan yang tidak rata. Jalanan cukup ramai, bahkan sempat terjadi sedikit kemacetan di tol karena bertepatan dengan arus mudik.
Namun beruntung, bus kami tetap bisa melaju tanpa harus terjebak lama.

Singgah Subuh di Brebes

Sekitar pukul 03.30 WIB, kami berhenti di daerah Brebes untuk makan subuh. Menu yang kami pilih adalah soto tauco. Jujur saja, rasanya cukup unik bahkan agak mengejutkan. Awalnya saya kira itu soto ayam biasa, ternyata menggunakan tauco, jadi rasanya sedikit berbeda dari yang biasa saya makan. 😄 Kami menghabiskan waktu sekitar 30 menit di sana sebelum melanjutkan perjalanan.


Menuju Terminal Mendolo

Perjalanan dilanjutkan dengan melewati beberapa daerah seperti Bumiayu, Ajibarang, hingga Sukorejo. Kurang lebih 4 jam perjalanan, akhirnya kami tiba di Terminal Mendolo pada pukul 07.30 WIB.

Karena waktu sudah pagi, kami memanfaatkan fasilitas terminal untuk:

  • Cuci muka
  • Gosok gigi
  • Ganti pakaian

Lumayan menyegarkan setelah perjalanan panjang semalaman.

Ojek & Mini Bus Menuju Dieng

Sekitar pukul 08.00 WIB, kami ditawari ojek untuk menuju titik keberangkatan minibus ke Dieng. Tanpa pikir panjang, kami berlima menggunakan jasa ojek tersebut dengan tarif Rp30.000 per motor.

Perjalanan ojek sekitar 15 menit, cukup singkat tapi menyenangkan karena mulai terasa suasana pegunungan.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menggunakan minibus menuju Dieng dengan tarif Rp25.000 per orang. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 1–2 jam.

Sepanjang perjalanan menuju Titik 0 Dieng, kami disuguhkan pemandangan indah gn.sindoro yang begitu gagah dan tidak bisa kami berhenti melihat keindahan tersebut.

Tiba di Dieng & Check-in Homestay

Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan, akhirnya kami tiba di Titik 0 Dieng sebuah momen yang cukup ditunggu-tunggu.

Dari sana, kami langsung menuju penginapan di Homestay Dwarawati untuk beristirahat. Kami berencana menginap selama 2 hari 1 malam.

Setelah sampai dan beristirahat sejenak di Homestay Dwarawati, kami tidak ingin membuang waktu terlalu lama. Udara dingin khas Dieng Plateau langsung terasa menusuk, bahkan di siang hari.

Kabut tipis masih menggantung di sekitar desa, menciptakan suasana yang tenang sekaligus magis. Jalanan kecil, rumah warga, dan hamparan pegunungan membuat kami sejenak lupa bahwa perjalanan panjang tadi cukup melelahkan.

2. Mengunjungi Ikon Wisata Dieng

Kami mulai menjelajahi beberapa destinasi terkenal di Dieng, di antaranya:

A. Telaga Warna

Airnya benar-benar unik warna yang berubah-ubah membuatnya terlihat seperti lukisan alam.

Saat kami tiba di lokasi, suasana masih cukup sejuk dengan kabut tipis yang perlahan bergerak di atas permukaan air. Dari kejauhan, telaga ini terlihat tenang… tapi semakin mendekat, keajaiban itu mulai terasa.

Airnya tidak hanya satu warna.

Kadang terlihat hijau, lalu berubah menjadi kebiruan, bahkan ada pantulan kekuningan saat cahaya matahari mulai menyentuh permukaannya.

 Seperti melihat lukisan yang terus berubah, tapi dilukis langsung oleh alam.

Momen yang Sulit Dijelaskan

Kami sempat terdiam beberapa saat. Bukan karena lelah, tapi karena benar-benar menikmati suasana.

Angin dingin berhembus pelan, air telaga berkilau, dan pepohonan di sekitarnya menambah kesan tenang. Tidak banyak suara, hanya sesekali terdengar langkah pengunjung lain.

Di momen itu, rasanya seperti dunia melambat.


Spot Foto yang “Nggak Gagal” 

 Hampir di setiap sudut Telaga Warna terasa fotogenik:

  • View dari atas (spot gardu pandang)
  • Pinggir telaga dengan latar kabut
  • Pantulan air yang unik

Dan yang menarik, setiap foto bisa terlihat berbeda karena warna airnya juga berubah-ubah.



Telaga Warna bukan hanya tentang keindahan visual. Ada sesuatu yang membuat kita berhenti sejenak menikmati, tanpa buru-buru.

Mungkin, di tempat seperti ini kita diingatkan… bahwa alam punya cara sederhana untuk membuat kita takjub.

 

Kawah Sikidang: Wajah Liar Dieng yang Tak Terjinakkan


Aroma Belerang yang Menyapa

Bahkan sebelum sampai di titik utama, aroma belerang sudah mulai tercium cukup kuat. Semakin mendekat, asap putih terlihat mengepul dari permukaan tanah.

Rasanya seperti masuk ke dunia yang berbeda bukan lagi pegunungan hijau, tapi area yang penuh energi dari dalam bumi.

Tanah di sekitar kawah tampak retak, berlumpur, dan di beberapa titik terlihat mendidih.

Kawah yang “Hidup”

Yang paling menarik dari Kawah Sikidang adalah pergerakannya.

Tidak seperti kawah lain yang diam, di sini kawah bisa “berpindah-pindah” dalam area tertentu. Itulah kenapa dinamakan Sikidang karena sifatnya yang melompat-lompat seperti kijang.

Kami berdiri cukup dekat, menyaksikan langsung:

  • Lumpur panas yang meletup
  • Uap panas yang keluar tanpa henti
  • Suara kecil seperti air mendidih
Ada rasa kagum… tapi juga sedikit was-was.


Antara Takjub dan Hati-Hati

Meskipun sudah ada jalur aman untuk pengunjung, tetap saja ada perasaan hati-hati setiap melangkah. Tanah di sekitar kawah terlihat tidak stabil, dan uap panas kadang muncul tiba-tiba. Di sini, kita benar-benar diingatkan bahwa alam itu indah… tapi juga punya kekuatan yang tidak bisa diremehkan. 

Kawah Sikidang seperti menunjukkan dua sisi Dieng:

  • Tenang di satu sisi
  • Liar di sisi lain

Dan justru di situlah letak keindahannya Dieng bukan hanya untuk dinikmati, tapi juga untuk dipahami.


B. Candi Arjuna: Tenang, Sunyi, dan Penuh Makna

Candi Arjuna merupakan salah satu peninggalan Hindu tertua di Jawa. Meskipun ukurannya tidak sebesar candi-candi lain di Indonesia, ada kesan sederhana tapi kuat.

Kami berjalan mengelilingi candi, memperhatikan detail batu, bentuk bangunan, dan suasana di sekitarnya.

Ada rasa kagum bagaimana bangunan seperti ini bisa berdiri di tempat setinggi dan sedingin Dieng.

Spot Foto yang Estetik

Tempat ini juga jadi salah satu spot favorit untuk foto:

  • Latar candi dengan kabut tipis
  • Rumput hijau luas
  • Gunung di kejauhan

Setiap sudut terasa seperti postcard.

Berbeda dengan tempat sebelumnya, di sini kami tidak banyak bicara. Lebih banyak diam, menikmati, dan sesekali mengambil foto.

Kadang, perjalanan bukan tentang seberapa jauh kita pergi… tapi seberapa dalam kita merasakan.

Candi Arjuna seperti menjadi penyeimbang dari perjalanan kami di Dieng:

  • Telaga Warna memberi keindahan
  • Kawah Sikidang menunjukkan kekuatan
  • Candi Arjuna menghadirkan ketenangan
Karena langit mulai gelap kami memutuskan untuk kembali ke homestay untuk mandi dan bersiap menyambut malam hari di dieng dan berkulineran di dekat sekitaran Dieng Plateau.


Malam Hari di Dieng


Setelah melakukan kunjungan ke berbagai wisata dan sudah selesai mandi di homestay, akhirnya kami pergi ke dieng foodcourt yang dimana banyak berbagai macam kuliner namun antri nya sangat luar biasa bisa sampai 1 - 2 jam sampai makanan jadi :").  Kami akhirnya memesan makanan Khas Dieng yaitu Mie Ongklok karena katanya ini adalah makanan paling favorite para wisatawan kalau sedang berkunjung ke daerah sini. dan kami juga memesan Jasuke, Kentang Keju.


disini kami juga disuguhkan pemandangan malam takbiran dengan adanya kembang api yang menyala


Tepat pukul 21.00 WIB kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke homestay untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan selanjutnya dan keesokan harinya perjalanan kami akan berlanjut ke Batu Ratapan Angin pada tanggal 22 Maret 2026 di pagi hari setelah sarapan pagi di homestay dwarawati.

Sebelum berangkat ke Batu Ratapan Angin kita sarapan dulu yang dikasih sama ibu homestay.
Menu sarapannya ada Ikan, Ayam, Tauge, Timun, dan Sambal.

Sesudah sarapan akhirnya kami lanjut perjalanan selanjutnya pada pukul 08.00 WIB


C. Batu Ratapan Angin: Menatap Dieng dari Ketinggian

Jalan Singkat, View yang Nggak Main-Main

Kami berjalan santai melewati jalur setapak. Udara pagi masih sangat dingin, tapi justru terasa segar. Nafas mulai terlihat tipis karena suhu yang rendah.

Tidak butuh waktu lama, akhirnya kami sampai di atas. Dan… pemandangannya langsung bikin diam.

tempat yang begitu sejuk dan kami naik ke atas untuk berfoto karena mendapati view yang sangat sejuk dan bagus.

Dari atas Batu Ratapan Angin, kami bisa melihat langsung:

  • Telaga Warna Dieng
  • Telaga Pengilon

Dua telaga yang berdampingan, tapi punya karakter berbeda.

Satu berwarna-warni dan misterius, satunya lagi jernih dan tenang seperti dua sisi dari satu tempat yang sama.

Kabut tipis yang bergerak perlahan membuat pemandangan semakin dramatis. Kadang tertutup, lalu terbuka lagi… seperti diberi “pertunjukan” oleh alam.

Batu Ratapan Angin bukan hanya tentang pemandangan, tapi tentang perspektif.

Dari sini, kami bisa melihat kembali tempat-tempat yang sudah kami kunjungi dari sudut yang berbeda.

 

Tempat ini terkenal dengan spot indah yang jadi ikon foto dan dari situ view-nya benar-benar terasa luas tanpa batas.

Kenapa Disebut “Ratapan Angin”?

Saat berada di sana, kami mulai paham kenapa tempat ini dinamakan seperti itu.

Angin yang berhembus tidak hanya terasa dingin, tapi juga menghasilkan suara khas seperti “ratapan” yang halus di antara bebatuan.

Pagi itu di Batu Ratapan Angin menjadi salah satu highlight perjalanan kami di Dieng. Bukan hanya karena view-nya yang luar biasa, tapi juga karena perasaan yang muncul saat berada di sana.

Dan setelah ini… perjalanan akan mulai berubah.

Bukan lagi sekadar menikmati

tapi mulai menantang diri.

3. Pendakian Gunung Prau: Langkah Awal Menuju Atas Awan


Setelah puas menikmati keindahan Batu Ratapan Angin, kami kembali ke penginapan untuk bersiap.

Tepat pukul 13.00 WIB, perjalanan yang sebenarnya akhirnya dimulai pendakian menuju Mount Prau melalui basecamp via Dieng.

Langkah Awal yang Masih Santai

Sesampainya di basecamp, kami melakukan registrasi, pengecekan barang, dan memastikan semua logistik aman.


Cuaca siang itu cukup cerah, tapi jangan salah udara Dieng tetap dingin meskipun matahari bersinar.

Dengan ransel di punggung dan langkah pertama yang mantap, kami mulai berjalan meninggalkan basecamp.

Awal jalur masih terasa “ramah”. Trek cukup jelas, dengan jalan setapak yang mulai menanjak perlahan.

Panas Tipu-Tipu & Jalur Terbuka

Semakin naik, jalur mulai terbuka.

Tidak banyak pepohonan tinggi, hanya hamparan padang rumput dan bukit yang terlihat seperti tidak ada habisnya.

Matahari terasa cukup terik, tapi angin dingin tetap menusuk kombinasi yang agak membingungkan 😄

Di beberapa titik, kami mulai berhenti sejenak:

  • Minum air
  • Atur nafas
  • Sekadar menikmati pemandangan
Kami berjalan dari basecamp menuju pos 1 walaupun jalurnya tidak terlalu teknis, tapi trek yang terus menanjak mulai terasa di kaki.
Nafas mulai lebih berat, langkah tidak secepat di awal, dan ransel mulai terasa lebih “berat dari biasanya”.
Kami saling menyemangati satu sama lain, karena perjalanan ini bukan tentang siapa yang paling cepat tapi bagaimana bisa sampai bersama.

Setelah melewati Pos 1, kami tidak berhenti terlalu lama. Sekadar minum, tarik nafas, lalu melanjutkan perjalanan menuju Pos 2 di Mount Prau.


Tanjakan yang Mulai Menguji


Jalur dari Pos 1 ke Pos 2 didominasi tanjakan yang cukup konsisten. Tidak terlalu ekstrem, tapi panjang dan membuat kaki perlahan mulai terasa berat.
Langkah yang tadi masih santai, sekarang mulai lebih pelan dan teratur.

Kami mulai berjalan dengan ritme:

  • 10–15 langkah
  • Berhenti sebentar
  • Lanjut lagi

Teknik sederhana, tapi sangat membantu.

Semakin naik, nafas mulai terasa lebih pendek. Ransel yang dari awal terasa biasa saja, sekarang mulai “terasa isinya”. 

Di momen ini, ego mulai diuji antara mau cepat sampai atau menjaga stamina. 

Kami memilih untuk tetap santai, karena perjalanan masih panjang.

Jalur Terbuka & Angin Gunung

Jalur masih didominasi area terbuka dengan padang rumput luas. Angin mulai terasa lebih kencang, tapi justru membantu mengurangi rasa panas dari matahari.


Di titik ini, kekompakan tim mulai terasa penting.

Kami saling:

  • Menunggu yang di belakang
  • Menyemangati
  • Bahkan bercanda kecil untuk mengurangi capek

Karena naik gunung itu bukan soal kuat sendiri btapi kuat bareng.


Pos 2 di Depan Mata

Setelah perjuangan yang cukup menguras tenaga, akhirnya tanda-tanda Pos 2 mulai terlihat.

Rasanya lega. 

Bukan karena sudah sampai puncak, tapi karena berhasil melewati satu tahap lagi.

Langkah terakhir menuju Pos 2 terasa lebih ringan mungkin karena semangat sudah kembali naik.

 II. Pos 2 ke Pos 3: Bertemu Akar Cinta di Tengah Pendakian 

Setelah beristirahat sejenak di Pos 2, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Pos 3 di Mount Prau.

Langkah terasa sedikit lebih berat dibanding sebelumnya, tapi suasana mulai berubah.

Jalur yang Lebih Teduh

Berbeda dengan jalur sebelumnya yang terbuka, di sini kami mulai memasuki area dengan pepohonan. Udara terasa lebih sejuk, dan jalur sedikit lebih bersahabat secara visual meskipun tetap menanjak.
Ada rasa tenang saat berjalan di antara pepohonan, seolah perjalanan ini memberi jeda dari panas dan lelah sebelumnya.


Akar Cinta yang Ikonik 

Di tengah perjalanan menuju Pos 3, kami sampai di salah satu spot yang cukup terkenal di kalangan pendaki Akar Cinta.

Akar pohon besar yang membentuk pola unik, menyerupai simbol hati.

Tentu saja, kami tidak melewatkan kesempatan untuk berhenti sejenak.

  • Duduk sebentar
  • Minum air
  • Dan tentunya… foto 😄

Di tengah perjalanan yang melelahkan, tempat ini seperti “hadiah kecil” dari alam.


Lanjut Menuju Pos 3 

Setelah cukup beristirahat, kami melanjutkan perjalanan. Tanjakan masih ada, tapi semangat terasa kembali naik.

Langkah terasa lebih ringan mungkin karena energi sudah diisi ulang, atau karena pikiran sudah lebih santai. Tidak lama kemudian, tanda-tanda Pos 3 mulai terlihat, dan akhirnya kami sampai di Pos 3 Lothong.

Rasanya campur aduk:

  • Lega
  • Capek
  • Tapi juga bangga
Satu lagi tahap berhasil dilewati.
Perjalanan dari Pos 2 ke Pos 3 bukan hanya tentang naik lebih tinggi, tapi juga tentang menemukan momen kecil yang berarti seperti Akar Cinta di tengah jalur.

III. Dari Pos 3 ke Puncak Prau: Langkah Terakhir Menuju Impian

Setelah sampai di Pos 3, kami tidak ingin berlama-lama. Waktu sudah mulai sore, dan target kami jelas sampai di puncak Mount Prau sebelum gelap.

Langkah kembali dilanjutkan.
Dan di sinilah… perjalanan terasa paling “mengena”.

Tanjakan Terakhir yang Menguji

Jalur dari Pos 3 menuju puncak didominasi tanjakan yang cukup panjang. Tidak terlalu ekstrem, tapi cukup untuk menguras sisa tenaga.

Kami berjalan lebih pelan. Tidak banyak bicara. Fokus hanya satu melangkah.

Setelah melewati Pos 3, kami kembali melanjutkan langkah menuju puncak Gunung Prau. Namun kali ini, suasana tidak lagi sama seperti sebelumnya. Kabut mulai turun perlahan, awalnya tipis, lalu semakin lama semakin tebal hingga jarak pandang menjadi terbatas.

Jalur di depan mulai terlihat samar. Pemandangan yang sebelumnya terbuka kini tertutup putih. Rasanya seperti berjalan di dalam awan hening, dingin, dan sedikit misterius. Kami pun menyesuaikan langkah, berjalan lebih pelan dan menjaga jarak satu sama lain agar tetap aman di jalur.

Di tengah kabut itu, perjalanan terasa berbeda. Tidak ada pemandangan luas yang bisa dinikmati, tidak ada horizon yang terlihat. Yang ada hanya langkah demi langkah, nafas yang mulai berat, dan suara angin yang sesekali terdengar di antara kesunyian.

Akhirnya, setelah melewati jalur terakhir, kami sampai di area puncak Gunung Prau.  

Meski tidak disambut pemandangan yang indah saat tiba, ada kepuasan tersendiri yang sulit dijelaskan. Kami berhasil sampai.

Dan di balik kabut itu, kami tahu ada sesuatu yang sedang menunggu.

Belum sampai disana saja perjalanan kami, Kami melanjutkan perjalanan menuju sunrise camp untuk menginap 1 malam di mount prau untuk merasakan rasa malam yang dingin dan sejuk.

Jarak Puncak Prau menuju Sunrise Camp kurang lebih sekitar 40 - 60 Menit loh.

Langkah kembali dilanjutkan, meskipun tenaga sudah mulai terkuras. Kabut masih menyelimuti, dan suasana semakin dingin seiring waktu berjalan menuju malam. Jalur yang dilalui berupa savana luas, namun saat itu semuanya tertutup putih, membuat kami hanya bisa fokus pada arah dan mengikuti jalur setapak.

Sesampainya di area sunrise camp, kami segera mencari spot untuk mendirikan tenda. Tidak banyak yang bisa dilihat saat itu hanya kabut, angin, dan dingin yang mulai terasa lebih menusuk.

Tak lama setelah kami beristirahat, hujan mulai turun. 
Awalnya hanya rintik kecil, lalu perlahan menjadi lebih deras. Suara hujan yang mengenai flysheet tenda menjadi satu-satunya “musik malam” yang kami dengar. Di dalam tenda, kami saling berbagi cerita, mencoba menghangatkan suasana di tengah dingin yang semakin menjadi.

Malam itu terasa panjang.

Angin sesekali berhembus cukup kencang, membuat tenda sedikit bergetar. Udara dingin semakin menusuk, dan kami hanya bisa berharap cuaca membaik saat pagi tiba.

 Waktu berjalan perlahan.

Hujan akhirnya mulai reda menjelang dini hari, menyisakan udara yang jauh lebih dingin dari sebelumnya. Kami mulai terbangun satu per satu, bersiap menyambut momen yang sudah kami tunggu sejak awal perjalanan.

Langit masih gelap, tapi kabut perlahan mulai menghilang.

Dan ketika cahaya pertama mulai muncul di ufuk timur…

Pemandangan yang sejak kemarin tertutup akhirnya terbuka.

Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing terlihat jelas di hadapan kami.


Berdiri megah, seolah muncul dari lautan awan, disinari cahaya subuh yang perlahan menghangatkan langit. Warna jingga mulai menyapu horizon, menciptakan gradasi yang begitu indah. 

Semua rasa lelah, dingin, dan perjalanan panjang kemarin… seolah terbayar di momen itu.

Tidak banyak kata yang terucap. Kami hanya berdiri, melihat, dan menikmati.

Karena ada keindahan yang memang tidak perlu dijelaskan cukup dirasakan.

Dan di situlah kami sadar, perjalanan ini bukan hanya tentang sampai di puncak…
tapi tentang menunggu, bertahan, dan akhirnya menyaksikan momen yang tidak semua orang bisa rasakan.

Posting Komentar

0 Komentar