Perjalanan kami menuju Pulau Pari dimulai sejak pagi hari dengan semangat petualangan yang sudah terasa sejak dari rumah. Perjalanan ini kami lakukan berempat, yaitu saya, Rudy, Ruby, dan Yoga. Kami sepakat untuk menikmati perjalanan sederhana namun penuh pengalaman, dimulai dari menggunakan kereta api menuju Jakarta.
Setelah perjalanan dengan kereta selesai, kami tiba di Stasiun Angke. Dari sana kami berjalan sekitar 100 meter menjauhi area pasar,
karena akses mobil biasanya cukup sulit untuk masuk ke dalam. Kami memilih memesan Grab dari titik yang lebih mudah dijangkau kendaraan.
Tak lama kemudian mobil Grab yang kami pesan datang. Menariknya, mobil yang menjemput kami adalah BYD M6 electric car. Rasanya benar-benar berbeda mobilnya sangat halus, adem, dan hampir tidak terasa getarannya saat melaju.
Perjalanan menuju Pelabuhan Angke terasa nyaman.
Sesampainya di Pelabuhan Angke, kami memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu di salah satu tenant yang tersedia di area pelabuhan. Saya dan Yoga memilih menikmati secangkir kopi untuk menghangatkan pagi, sementara Ruby memesan nasi uduk yang aromanya menggoda. Rudy memilih sarapan sederhana dengan roti. Sarapan singkat ini cukup membuat energi kami kembali penuh sebelum melanjutkan perjalanan laut.
Setelah selesai sarapan, kami berjalan menuju area keberangkatan perahu.
Perahu yang akan kami tumpangi adalah perahu kayu yang mampu membawa cukup banyak penumpang. Suasana di pelabuhan cukup ramai karena banyak wisatawan yang juga ingin menuju Kepulauan Seribu.
Sekitar dua puluh menit sebelum keberangkatan, kami sudah masuk ke dalam perahu dan mencari tempat duduk yang nyaman. Perjalanan menuju Pulau Pari diperkirakan memakan waktu sekitar dua jam. Perahu akhirnya berangkat, perlahan meninggalkan pelabuhan. Sepanjang perjalanan kami disuguhkan pemandangan laut yang luas dengan langit cerah yang terasa sangat bersahabat. Angin laut berhembus lembut membuat perjalanan terasa menyenangkan.
Setelah sekitar dua jam perjalanan, akhirnya perahu kami merapat di Pulau Pari. Begitu sampai, kami langsung berjalan menuju pintu masuk pulau.
Di sekitar area tersebut terdapat banyak pedagang makanan dan jajanan. Tentu saja kami tidak melewatkan kesempatan untuk mencicipi beberapa camilan sebelum melanjutkan perjalanan.
Setelah puas jajan, kami memutuskan berjalan kaki menuju pantai tempat kami akan mendirikan tenda. Jaraknya sekitar 500 meter dari area masuk pulau.
Meski cukup jauh, perjalanan terasa ringan karena suasana pulau yang tenang dan pemandangan yang indah di sepanjang jalan.
Sesampainya di pintu masuk pantai, kami dikenakan biaya masuk sebesar Rp20.000 per orang, serta biaya Rp20.000 untuk izin menginap dengan tenda. Setelah membayar, kami langsung menuju pesisir pantai untuk mencari tempat terbaik mendirikan tenda. Langit saat itu terlihat sangat cerah dengan angin pantai yang sepoi-sepoi. Kondisi cuaca yang bersahabat membuat proses mendirikan tenda menjadi jauh lebih mudah. Tak butuh waktu lama hingga akhirnya tenda kami berdiri dengan sempurna.

Setelah semuanya siap, kami duduk santai menikmati suasana pantai. Angin laut terasa sangat menenangkan setelah perjalanan panjang.
Ruby yang memang hobi memancing langsung bergegas menuju pinggir laut untuk mencoba peruntungannya. Sementara itu Yoga mulai menyiapkan makanan hangat untuk kami, yaitu Pop Mie yang dimasak bersama telur rebus. Rudy memilih berjalan-jalan sebentar menikmati pemandangan sekitar.
Ketika makanan sudah siap, kami makan siang bersama dengan sederhana namun terasa sangat nikmat karena dimakan di pinggir pantai.
Setelah itu kami melanjutkan aktivitas menjelajah Pulau Pari menggunakan sepeda listrik yang kami sewa seharga Rp25.000 selama satu jam. Berkeliling pulau dengan sepeda listrik ternyata sangat menyenangkan karena jalannya cukup nyaman dan pemandangannya sangat indah.
Menjelang sore hari, kami menemukan pemandangan senja yang luar biasa indah. Langit berubah warna menjadi keemasan dan memantul di permukaan laut. Di salah satu area pantai, kami juga menemukan seekor bintang laut yang terlihat kurus kering meskipun begitu ternyata masih hidup. Momen tersebut tentu saja tidak kami lewatkan untuk difoto.
Hari mulai gelap dan malam pun tiba. Kami mulai menyiapkan makan malam di dekat tenda. Namun tiba-tiba sesuatu yang tidak kami duga terjadi. Angin kencang datang secara tiba-tiba disertai hujan yang cukup deras.
Badai kecil tersebut membuat rencana makan malam kami berantakan. Beberapa makanan yang sudah kami siapkan bahkan rusak karena terkena air. Kami hanya bisa tertawa melihat situasi yang tidak terduga itu.
Setelah badai akhirnya reda, kami kembali menyiapkan makanan dengan kondisi yang sedikit basah dan pakaian yang agak lembap. Meski begitu, suasana kebersamaan membuat semuanya terasa tetap menyenangkan. Setelah makan malam, tubuh kami mulai terasa lelah setelah seharian penuh beraktivitas. Kami pun memutuskan untuk beristirahat di dalam tenda, ditemani suara ombak dan angin laut yang menenangkan.
Hari pertama di Pulau Pari berakhir dengan cerita yang tidak akan mudah kami lupakan perjalanan panjang, pemandangan indah, hingga badai kecil yang justru menjadi kenangan lucu dalam petualangan kami.
0 Komentar