Journey Bincama: Langkah Pertama Calon Mahasiswa di Bumi Tridharma
Sebuah perjalanan mengenal nilai, budaya, dan kisah di balik Bincama menuju Bumi Tridharma.
Sebagai Ketua HIMA, setiap tahun saya selalu menantikan satu momen penting: Bimbingan Calon Mahasiswa (Bincama). Namun tahun ini terasa berbeda. Dengan tim kecil beranggotakan 10 orang HIMA, kami memutuskan untuk membawa nuansa baru dalam Bincama menjadikannya bukan sekadar program pengenalan, tetapi sebuah perjalanan, sebuah “trip” menuju apa yang kami sebut sebagai Bumi Tridharma.
Awal Perjalanan: Bertemu Mereka yang Akan Memulai Langkah Baru
Calon mahasiswa datang dengan berbagai wajah: ada yang penuh semangat, ada yang masih canggung, ada pula yang memendam rasa takut dalam diam. Di hadapan mereka, saya menyadari bahwa perjalanan ini tidak hanya tentang memberi informasi, tetapi tentang bagaimana kami bisa menjadi teman perjalanan yang memudahkan proses transisi mereka.
Ketika saya memperkenalkan tim HIMA, saya melihat bagaimana sepuluh anggota kami berdiri dengan keyakinan. Bagi saya, mereka bukan hanya panitia atau pendamping—mereka adalah pemandu perjalanan, navigator yang membantu memberi arah pada puluhan calon mahasiswa yang baru memasuki dunia perkuliahan.
Bincama Sebagai Perjalanan, Bukan Sekadar Program
Kami sepakat menjadikan Bincama sebagai perjalanan menuju “Bumi Tridharma”, sebuah metafora tentang ruang dan nilai yang ingin kami perkenalkan:
- Pendidikan sebagai bekal,
- Pengabdian sebagai arah kompas,
- Kebajikan sebagai tujuan akhir.
Layaknya perjalanan, kami memecah kegiatan dalam beberapa titik pemberhentian yang masing-masing memiliki cerita. Ada checkpoint tentang jati diri, checkpoint tentang nilai Tridharma, hingga checkpoint tentang memahami lingkungan kampus.
Setiap kegiatan kami rancang seperti destinasi dalam sebuah rute perjalanan. Ada sesi tanya jawab seperti bazar lokal yang hidup, sesi refleksi seperti pemandangan alam yang hening, dan permainan kelompok seperti aktivitas luar ruang yang mendekatkan hati.
Tim HIMA: Para Pemandu Perjalanan
Sebagai ketua, salah satu kebanggaan terbesar saya adalah melihat bagaimana sepuluh anggota HIMA bekerja. Mereka bukan sekadar menjalankan tugas, tetapi menghadirkan suasana yang tulus. Ada yang menjadi pencerita, berbagi pengalaman seperti tour guide yang ramah. Ada yang menjadi pendengar baik, memastikan tidak ada peserta yang merasa tersesat. Ada pula yang menjadi penghibur, menjaga energi agar tetap hangat dan bersahabat. Dalam perjalanan kali ini, saya belajar banyak dari mereka: bahwa kepemimpinan bukan hanya memimpin di depan, tetapi juga berjalan bersama di tengah. Terkadang saya memberi arahan, tapi lebih sering saya menyaksikan sendiri bagaimana para anggota membuat calon mahasiswa merasa diterima.
Kebersamaan di Bumi Tridharma
Pada saat sampai kami melakukan pengumpulan hp para calon mahasiswa agar mereka bisa fokus pada kegiatan yang sedang berlangsung.
Sesudah pengumpulan Handphone, Tim HIMA dan BEM melakukan pemecahan anggota untuk melaksanakan agenda-agenda lainnya kepada calon mahasiswa.
Tim 1, Melakukan pembagian kamar yang telrihat pada gambar dibawah ini.
ini adalah pembagian kamar putri, yang dilakukan oleh tim hima dan bem., dan ada juga yang dilakukan tim lain yaitu tim 2, mengurusi konsumsi untuk para makan panitia ataupaun calon mahasiswa seperti gambar dibawah ini,
Ini adalah momen pada saat tim 2 mengurusi konsumsi terlihat foto ini dijepret pada tahun 2018, ini adalah momen yang tidak dapat terulang kembali karena waktu akan terus berjalan hingga yang tersisa hanyalah sebuah kenangan.
Momen-Momen Berkesan Sepanjang Perjalanan
Salah satu momen yang paling berkesan adalah ketika para calon mahasiswa mulai membuka diri. Seorang peserta bercerita bahwa ia awalnya ragu masuk kampus ini, namun setelah sesi diskusi nilai Tridharma, ia menemukan alasan baru untuk melanjutkan perjalanan hidupnya di sini.
Ada pula kegiatan refleksi di mana peserta diminta menuliskan harapan mereka. Suasana hening saat itu seperti berada di tengah perjalanan menuju puncak gunung tenang, namun sarat makna. Kami merasakan bahwa setiap dari mereka membawa cerita masing-masing, dan kami beruntung bisa menjadi bagian kecil dalam bab awalnya.
Apa yang Saya Pelajari sebagai Ketua
Dari perjalanan Bincama menuju Bumi Tridharma ini, saya memahami bahwa tanggung jawab sebagai ketua bukan hanya memastikan acara berjalan, tetapi memastikan hati-hati yang ikut dalam perjalanan ini mendapat cahaya baru. Saya belajar bahwa setiap anggota HIMA memiliki kekuatan unik, dan ketika semua kekuatan itu disatukan, perjalanan menjadi jauh lebih bermakna.Saya juga belajar bahwa para calon mahasiswa tidak membutuhkan kesempurnaan dari kami yang mereka butuhkan adalah kehadiran tulus yang membuat mereka tidak merasa sendirian.
Akhir Perjalanan Atau Awal dari Banyak Perjalanan Baru
Ketika Bincama berakhir, saya menyadari bahwa perjalanan ke Bumi Tridharma bukan hanya milik calon mahasiswa. Bagi saya dan tim HIMA, ini juga adalah perjalanan untuk memperdalam nilai, memperkuat kebersamaan, dan memahami bahwa setiap orang sedang berjalan menuju versi terbaik dirinya sendiri. Kami menutup perjalanan dengan rasa syukur. Bincama tahun ini bukan hanya berhasil tetapi meninggalkan kesan hangat, rasa dipertemukan dalam satu perjalanan, dan harapan baru yang akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Bagi para calon mahasiswa, Bincama mungkin hanya permulaan. Namun bagi kami, ini adalah pengingat bahwa setiap langkah kecil dalam perjalanan ini memiliki makna.










0 Komentar